Apa yang ada di pikiran
kita saat membaca kata ‘Netiket’?…
Netiket adalah internet +
etiket. Internet pasti semua sudah tahu, Kalau etiket? (bukan tiket yang
kita beli secara online atau eTiket). Etiket adalah Tata cara masyarakat dalam
memelihara hubungan baik antar sesama manusia.
Mungkin kita di rumah dan
di sekolah diajarin etiket, diajarin adab sopan santun dan bagaimana
berinteraksi dengan sesama. Tapi apakah juga diajarin tentang netiket?… Tidak
kan…
Seperti yang kita lihat,
bahwa orang cenderung memandang internet sebagai alternate universe. Alam
lain. Apa yang dikerjakan di internet (seperti ngeblog, ngetwit, googling,
nontonvideo yutub, chatting dll) ini adalah dunia maya sementara
kehidupan yang dijalani sehari-hari seperti sekolah, bekerja, memasak,
olahraga, dll adalah dunia nyata. Kemudian muncul bahasan-bahasan
semacam: “Dunia Nyata vs Dunia Maya”. Seakan-akan dunia maya itu tempat
yang berbeda, atau dua hal yang berseberangan. Seperti ‘bangun vs tidur’, atau
‘kenyataan vs mimpi’ atau yang ekstrem ‘surga vs neraka’. Padahal tidak seperti
itu.
Internet yang kita sebut
‘dunia maya’ ini adalah bagian dari dunia nyata.
Karena yang di depan kita
adalah monitor komputer atau layar henfon, maka kita sering keliru menganggap
apa yang kita hadapi itu adalah mesin. Kita mengira kita berbicara dan
berinteraksi dengan komputer, kita nggak sadar di balik layar digital itu ada
manusia yang nyata…
Kita menyimak postingan ini
di monitor komputer (atau layar henfon), tulisan-tulisan ini nggak muncul
begitu saja. Saya yang nulis, dan saya nyata.
Kita membaca twit seseorang,
hmmm, sebut saja @roromendut Twit-twitnya tidak nongol dari alam digital secara
ghaib. Kata-kata itu dia yang mengetik. Dan dia nyata.
Internet dan segala isinya
adalah ciptaan orang-orang yang benar-benar ada di dunia. Kode, script, gambar,
warna, tulisan. Itu nyata. Memang, ada bot atau program komputer yang bisa
meng-generate tulisan atau gambar secara otomatis, well tapi ini
bahasan yang lain. Lagipula, program bot semacam itu juga ditulis oleh:
manusia. Sekali lagi, nyata.
Karena internet atau dunia
maya ini adalah bagian dari dunia nyata, maka etiket atau tata krama yang
berlaku di kehidupan sehari-hari pun berlaku di
internet. Misalnya menghormati orang lain, nggak nyakitin, menjaga
privasi, berterima-kasih, bilang permisi, minta maaf kalau salah, dsb.
Catatan: Netiket hanya
berlaku di dalam ruang dengan kehidupan sosial di dalamnya.
Hanya berlaku jika ada
interaksi, obrolan, atau pergaulan dengan orang-orang lain. ‘Ruang’ sosial ini
misalnya: twitter, facebook, forum/message board, email, milis, group chat,
kolom komentar di blog, dll. Jika kita online internet kemudian
yang kita hadapin ‘cleverbot’ maka netiket nggak berlaku. Karena yang di hadapi
memang bukan manusia.
Sama seperti etiket, Etiket
hanya berlaku ketika kita berada di lingkungan sosial atau sedang bersama orang
lain. Kalau udah masuk media sosial, kita nggak sendirian. Maka hati-hati dalam
menulis status, teliti sebelum memencet tombol send.
Berikut adalah
pelanggaran-pelanggaran dalam Netiket (Bukan pornografi, Bukan download lagu
dan film bajakan, Yang kita bahas berbeda). kesalahan-kesalahan yang terkait
dengan netiket itu antara lain: Flooding, flaming dan trolling.
Flooding
Aktivitas
ini hampir sama dengan spamming; yaitu aksi mengirim pesan bernada
sama, berulang-ulang. Bedanya; spam dilakukan oleh bot yang memang
diprogram untuk mengirim pesan-pesan dalam suatu waktu tertentu secara
otomatis. (Contohnya: twit promo yang tau-tau nyamber twit kita ketika menulis
keyword tertentu. Atau email yang bilang kalau kita menang undian sekian juta
dollar.) Sementara flooding dilakukan oleh manusia yang belum
tahu netiket. Sangat menjengkelkan. Tingkat kejengkelannya di atas level anak
kecil yang merengek-rengek minta mainan.
Flaming
Perbuatan
yang tidak terpuji yang kedua ini secara harfiah berarti membakar. Di sini
yang dibakar adalah emosi user lain. Flaming dalam kehidupan nyata mungkin
sepadan dengan: ngajak perang. Flaming biasanya menyerang personal; dan pasti
dilakukan oleh dua orang yang tidak saling mengenal. Jika sama-sama mengenal,
apalagi sobatan, nggak mungkin akan terjadi flaming. Dosa ini menelurkan varian
pihak ketiga yang bernama: kompor.
Setelah flaming; muncul
dosa dengan level yang lebih buruk: Trolling. Pasukan troll paling
banyak ditemukan di bagian komentar suatu video di youtube. Cari saja video
yang view-nya ribuan atau jutaan. Lihat komentar yang paling berbeda; nah itu
trolling. Contoh video sedangmain game horror dan menjerit-jerit dengan
ekspresi yang kocak. Kebanyakan user akan mengomentari dengan celetukan yang
kocak juga. Seperti: “LOL. Epic face!”
Tapi kalau seorang troll;
dia akan berkomentar seperti: “What is this shit? This video is so gay.
And you guys are dumb.”. cukup familiar kan?… Trolling dilakukan
untuk mencari perhatian atau merusak suasana. Dan sama seperti troll, dia akan
diem dan gak mau tau ucapan-ucapan orang lain.
Nah, kalau kita bertemu
dengan tiga hal tersebut, apa yang bisa kita lakukan?…
Think positive, santai saja
dan tetap semangat, yang perlu diperhatikan adalah: identitas pelaku. Hampir
semua pelaku flooding, flaming dan trolling itu identitasnya tidak jelas.
Kenapa? Karena mereka merasa aman bersembunyi di balik akun anonim. Karena tidak
ada orang yang kenal, mereka merasa bebas mau ngapain. Jika anda bertemu dengan
akun semacam itu, biarkan saja. Tidak perlu ditanggapin. Jika ada akun
dengan nama yang aneh dan tidak adatanda-tanda yang jelas, cuekin
saja. Salah satu nasehat untuk yang bermain di media sosial adalah…
“Jangan pernah percaya dan jangan pernah berdebat dengan akun anonim”
Sumber:
http://sabdadewi.wordpress.com/etiket-internet/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar