Sabtu, 03 Mei 2014

ETIKA INTERNET (NETIKET)

Apa yang ada di pikiran kita saat membaca kata ‘Netiket’?…

Netiket adalah internet + etiket. Internet pasti semua sudah tahu, Kalau etiket? (bukan tiket yang kita beli secara online atau eTiket). Etiket adalah Tata cara masyarakat dalam memelihara hubungan baik antar sesama manusia.
Mungkin kita di rumah dan di sekolah diajarin etiket, diajarin adab sopan santun dan bagaimana berinteraksi dengan sesama. Tapi apakah juga diajarin tentang netiket?… Tidak kan…

Seperti yang kita lihat, bahwa orang cenderung memandang internet sebagai alternate universe. Alam lain. Apa yang dikerjakan di internet (seperti ngeblog, ngetwit, googling, nontonvideo yutub, chatting dll) ini adalah dunia maya sementara kehidupan yang dijalani sehari-hari seperti sekolah, bekerja, memasak, olahraga, dll adalah dunia nyata. Kemudian muncul bahasan-bahasan semacam: “Dunia Nyata vs Dunia Maya”. Seakan-akan dunia maya itu tempat yang berbeda, atau dua hal yang berseberangan. Seperti ‘bangun vs tidur’, atau ‘kenyataan vs mimpi’ atau yang ekstrem ‘surga vs neraka’. Padahal tidak seperti itu.
Internet yang kita sebut ‘dunia maya’ ini adalah bagian dari dunia nyata.

Karena yang di depan kita adalah monitor komputer atau layar henfon, maka kita sering keliru menganggap apa yang kita hadapi itu adalah mesin. Kita mengira kita berbicara dan berinteraksi dengan komputer, kita nggak sadar di balik layar digital itu ada manusia yang nyata…

Kita menyimak postingan ini di monitor komputer (atau layar henfon), tulisan-tulisan ini nggak muncul begitu saja. Saya yang nulis, dan saya nyata.
Kita membaca twit seseorang, hmmm, sebut saja @roromendut Twit-twitnya tidak nongol dari alam digital secara ghaib. Kata-kata itu dia yang mengetik. Dan dia nyata.
Internet dan segala isinya adalah ciptaan orang-orang yang benar-benar ada di dunia. Kode, script, gambar, warna, tulisan. Itu nyata. Memang, ada bot atau program komputer yang bisa meng-generate tulisan atau gambar  secara otomatis, well tapi ini bahasan yang lain. Lagipula, program bot semacam itu juga ditulis oleh: manusia. Sekali lagi, nyata.
Karena internet atau dunia maya ini adalah bagian dari dunia nyata, maka etiket atau tata krama yang berlaku di kehidupan sehari-hari pun berlaku di internet. Misalnya menghormati orang lain, nggak nyakitin, menjaga privasi, berterima-kasih, bilang permisi, minta maaf kalau salah,  dsb.

Catatan: Netiket hanya berlaku di dalam ruang dengan kehidupan sosial di dalamnya.

Hanya berlaku jika ada interaksi, obrolan, atau pergaulan dengan orang-orang lain. ‘Ruang’ sosial ini misalnya: twitter, facebook, forum/message board, email, milis, group chat, kolom komentar di blog, dll. Jika kita online internet kemudian yang kita hadapin ‘cleverbot’ maka netiket nggak berlaku. Karena yang di hadapi memang bukan manusia.
Sama seperti etiket, Etiket hanya berlaku ketika kita berada di lingkungan sosial atau sedang bersama orang lain. Kalau udah masuk media sosial, kita nggak sendirian. Maka hati-hati dalam menulis status, teliti sebelum memencet tombol send.

Berikut adalah pelanggaran-pelanggaran dalam Netiket (Bukan pornografi, Bukan download lagu dan film bajakan, Yang kita bahas berbeda). kesalahan-kesalahan yang terkait dengan netiket itu antara lain: Flooding, flaming dan trolling.

Flooding

Aktivitas ini hampir sama dengan spamming; yaitu aksi mengirim pesan bernada sama, berulang-ulang. Bedanya; spam dilakukan oleh bot yang memang diprogram untuk mengirim pesan-pesan dalam suatu waktu tertentu secara otomatis. (Contohnya: twit promo yang tau-tau nyamber twit kita ketika menulis keyword tertentu. Atau email yang bilang kalau kita menang undian sekian juta dollar.) Sementara flooding dilakukan oleh manusia yang belum tahu netiket. Sangat menjengkelkan. Tingkat kejengkelannya di atas level anak kecil yang merengek-rengek minta mainan.

Flaming

Perbuatan yang tidak terpuji yang kedua ini secara harfiah berarti membakar. Di sini yang dibakar adalah emosi user lain. Flaming dalam kehidupan nyata mungkin sepadan dengan: ngajak perang. Flaming biasanya menyerang personal; dan pasti dilakukan oleh dua orang yang tidak saling mengenal. Jika sama-sama mengenal, apalagi sobatan, nggak mungkin akan terjadi flaming. Dosa ini menelurkan varian pihak ketiga yang bernama: kompor.

Setelah flaming; muncul dosa dengan level yang lebih buruk: Trolling. Pasukan troll paling banyak ditemukan di bagian komentar suatu video di youtube. Cari saja video yang view-nya ribuan atau jutaan. Lihat komentar yang paling berbeda; nah itu trolling. Contoh video sedangmain game horror dan menjerit-jerit dengan ekspresi yang kocak. Kebanyakan user akan mengomentari dengan celetukan yang kocak juga. Seperti: “LOL. Epic face!” 
Tapi kalau seorang troll; dia akan berkomentar seperti: “What is this shit? This video is so gay. And you guys are dumb.”. cukup familiar kan?… Trolling dilakukan untuk mencari perhatian atau merusak suasana. Dan sama seperti troll, dia akan diem dan gak mau tau ucapan-ucapan orang lain.

Nah, kalau kita bertemu dengan tiga hal tersebut, apa yang bisa kita lakukan?…

Think positive, santai saja dan tetap semangat, yang perlu diperhatikan adalah: identitas pelaku. Hampir semua pelaku flooding, flaming dan trolling itu identitasnya tidak jelas. Kenapa? Karena mereka merasa aman bersembunyi di balik akun anonim. Karena tidak ada orang yang kenal, mereka merasa bebas mau ngapain. Jika anda bertemu dengan akun semacam itu, biarkan saja. Tidak perlu ditanggapin. Jika ada akun dengan nama yang aneh dan tidak adatanda-tanda yang jelas, cuekin saja. Salah satu nasehat untuk yang bermain di media sosial adalah… “Jangan pernah percaya dan jangan pernah berdebat dengan akun anonim” 


Sumber:
http://sabdadewi.wordpress.com/etiket-internet/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar