Nama : Isni Liani
Npm : 13110671
Kelas : 1KA16
Beberapa saat yang lalu mantan Wapres Jusuf Kalla menyatakan "Gayus Potret Manusia Tak Pernah Puas" apa kamu pernah dengar ? dan disisi lain ada artis-artis, atlet, siswa/mahasiswa yang tidak pernah puasapa yang sudah mereka capai dan selalu ingin terus meningkatkan prestasi.
dari kedua kalimat tersebut ada kata yag sama yaitu "tidak pernah puas", yg satu mungkin negatif, satunya lagi ketidakpuasan yg positif. Apakah sifat tidak pernah puas itu emg sifat dasar manusia ya?
saya pun mengakui mempunya sifat yang tidak puas baik positif maupun negatif. contohnya saya ingin tekhnologi-tekhnologi yang sangat populer saat ini, padahal saya sudah punya, dan saya baru mengerti tidak mungkin selamanya saya mengikuti tekhnologi setiap saat karena setiap detik tekhnologi didunia berubah menjadi lebih canggih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051). Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab “Kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan hati (hati yang selalu merasa cukup).”
sebelum mendapat ketidakpuasan, pasti kita mengejar yang namanya sukses, sukses dalam pekerjaan, sukses didalam lingkungan sekitar, sukses untuk jadi yang lebih baik dari orang lain. nah untuk itu ada pedoman untuk mencapai kesuksesan sebagai berikut :
1. Jika sudah terjadi masalah, tidak harus dihindari ( Bingung ). tapi harus dihadapi dengan tenang dipikirkan jalan keluarnya. Pasti ada jalan keluarnya.
2. Menghadapi semua hal, tidak boleh berfikir negatif, seperti : saya pasti tidak mampu, saya tidak bisa dan seterusnya. Tapi selalu berfikir positif seperti saya bisa, pasti ada ada jalan keluarnya.
3. Susah dan senang semua tergantung dari pikiran saja ! ( Pikiran adalah pelopor ), Jadi jaga pikiran kita baik-baik. Selalu berpikir positif
4. Segala kesusahan/ kesulitan akan berakhir. Sebesar apapun masalahnya akan selesai juga dengan berjalannya waktu. Pepatah mengatakan TIDAK ADA PESTA YANG TIDAK SELESAI.
5. Menurut penelitian di Amerika, orang berhasil/ sukses, 85% ditentukan oleh sikap/perilaku/attitude, 15% ditentukan oleh ketrampilan. Jadi sikap kita dalam hidup sangat penting.
6. Segala sesuatu BERUBAH. Kita tidak perlu takut, misalnya sekarang susah, selanjutnya pasti berubah menjadi senang.
7. HUKUM KARMA, berarti berbuat baik akan mendapat hasil baik dan sebailiknya.
8. Kesehatan adalah harta yang paling berharga. Jaga kesehatan kita.
9. Masa depan seseorang sangat tergantung pada sikap dan buku-buku yang dibaca. Jadi membaca sangat penting untuk menentukan masa depan seseornang.
10. Jangan membicarakan kejelekan orang lain, karena kita akan dinilai jelek oleh orang yang mendengarkannya.
11. .Pergaulan sangat penting dan merupakan salah satu kunci sukses. Jika kita bergaul dengan orang baik kita akan menjadi baik, JIka kita bergaul dengan orang jahat kita akan menjadi jahat.
12. Budi orang tua, tidak dapat dibayar dengan apapun juga.. Menurut ajaran agama apapun , kita harus selalu ingat, patuh atau sayang pada orang tua. Berbakti pada orang tua berarti menjaga nama baik keluarga. 13. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi janganlah minder dengan kekurangan kita, tapi KEMBANGKANLAH potensi kelebihan kita.
14. Dalam keadaan bingung/ marah/ takut/ susah/ tidak tenang. Cara mengatasinya adalah TARIK NAFAS DALAM- DALAM, TERUS-MENERUS, dalam keadaan mata dan mulut tertutup ( bernafas keluar masuk melalui hidung). Sampai kita tenang. Bisa juga dilakukan dengan mata terbuka.
15. Kunci sukses dalam hidup ini, selalu bersemangat, berusaha, disiplin, sabar, bekerja keras, rajin berdoa, serta banyak berbuat baik tidak boleh putus-putus.
sumber : http://id.shvoong.com/books/1879398-pedoman-hidup-untuk-mencapai-kesuksesan/
jika seseorang sudah mencapai kesuksesan/keberhasilan, pasti ada perasaan ingin lebih lebih lebih . contohnya pada kasus gayus yang lagi heboh saat ini, gayus tidak pernah merasa puas apa yang sudah didapatnya seperti apa yang dikatakan JK "Gaji petugas pajak golongan III A itu lima kali lipat dari pegawai lain dari golongan yang sama, tetapi tidak pernah puas," katanya kepada wartawan terkait kasus dugaan korupsi pajak senilai Rp 25 miliar itu, Sabtu (27/3/2010). sumber : kompas
dan kamu tau atlet Susi Susanti ? yap benar yang main bola, eh bukan bulu tangkis.
Untuk menjadi juara ia memang harus selalu disiplin dan konsentrasi. Akhirnya ia pun menyadari dalam meraih prestasi memang perlu perjuangan dan pengorbanan. “Kalau mau santai dan senang-senang terus, mana mungkin cita-cita saya untuk jadi juara bulutangkis tercapai? Sekarang rasanya puas banget melihat pengorbanan saya ada hasilnya. Ternyata benar juga kata pepatah: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” kata Susi mengenang.
Secara awalnya hati manusia memang susah untuk merasa puas. Walaupun sudah
memiliki sepuluh peti emas, seseorang itu masih mau lagi kesebelas. Apabila
dia sudah mempunyai sebelas peti emas dia mau lagi yang kedua belas dan
begitulah seterusnya.
baikah sikap seperti ini? Dari aspek motivasi tidak salahnya sebab bersikap
maju, sikap yang diperlukan untuk menjadi kaya sebab Islam tidak pernah
menghalang umatnya menjadi kaya. dengan alasan dengan adanya harta yang
banyak memudahkan seseorang itu menyalurkan sebagian daripadanya ke
jalan-jalan kebaikan.
Jadi, dalam mengarungi kehidupan tidak salah seseorang itu bermewah-mewah
asalkan kemewahan tidak melupakan dia kepada Dipergunakan untuk tujuan
agama. Meskipun bersederhana itu lebih dituntut namun bermewah-mewah dalam
ruang lingkup yang dibenarkan berusaha sesuai dengan kehidupan sekarang.
Memang, kadang-kadang penilaian dan penghormatan manusia terhadap kita
bergantung kepada apa yang kita punya dan pangkat apa yang kita
sandang.mobil apa yang kita miliki, beberapa besar rumah apa yang kita
miliki, kawasan mana kita tinggal, keahlian apa yang kita ada dan yang
lainnya lagi.
Kehidupan kapitalisme dan materalisme sekarang telah meletakkan apa yang
kita miliki sebagai asas penghormatan manusia terhadap kita. Maka tidak
salahmemiliki segala-galanya asalkan kita tidak lupa diri, tidak berubah dan
masih meletakkan TUHAN sebagai Pemilik kehidupan.
Ujian paling berat bagi seorang yang kaya ialah jatuh miskin atau kehilangan
hartanya yang paling disayangi. Kala inilah kesabaran akan diuji. Kalau tadi
Islam membenarkan sikap tidak puas sebagai pendorong untuk manusia terus
berusaha, sekarang Islam melarang sikap tidak puas hati karena ditimpa
ujian. Sikap yang patut ditunjukkan ialah bersyukur kepada ALLAH karena
memberi peluang untuk memperbaiki diri. Setiap ujian tentunya beralasan.
Dalam menjalani dengan ujian baik kekurangan harta maupun yang melibatkan
kehidupan, tiada perkataan lain yang boleh diucapkan melainkan 'sabar' dan
'ridha'. Hanya dua perkataan ini bisa menyelamatkan seseorang daripada
dimurkai ALLAH. Dimurkai beraeti berdosa dan dosa kalau tidak dibasuhi
dengan taubat, jawabannya Neraka. Di antara tanda bersyukur ialah sentiasa
bersabar dan teguh iman menerima ujian ALLAH.
Sikap yang berlawanan dengan ini ialah sifat tamak untuk memiliki semuanya
hingga mengambil hak orang lain. Orang begini akan semakin kufur apabila
diberi nikmat, apalagi tatkala ditimpa musibah. Dia akan mudah menyalah
takdir dan menyalah TUHAN. Ingat janji ALLAH, "Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti KAMI akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim,
7).
Bandingkan dengan kita, barulah memiliki harta sedikit saja sudah merasakan
tidak berpijak di bumi ALLAH. Kadang-kadang hanya karena sebuah mobil yang
belumlah dikatakan sebagai 'mewah', kita sudah Terkagum menjadi diri kita.
ingatlah kekayaan allah menyangkut apa yang ada di bumi dan dilangit. Sikap
tidak pernah puas dapat menyebabkan penarikan pada bank rekening anda, maka
sebnaiknya anda harus selalu bersukur.
dan kesimpulannya adalah manusia meang tidak pernah puas dalam hal apapun
tapi liahatlah kebawah atau kebelakang, dalam arti yang kaya lihatlah kebawah
yaitu mereka yang masih membutuhkan uluran tangan .dan melihat kebawah untuk
mereka meraih prestasi masih banyak yang tidak bisa meraih prestatsi sehebat
yang anda sudah capai.
sumber:
http://yunikogfa.blogspot.com/2010/12/mapping-subject-manusia-tidak-pernah_19.html
Minggu, 09 Januari 2011
MAPPING THE SUBJECT - sikap dewasa
Nama : Isni Liani
Npm : 13110671
Kelas : 1KA16
Apa yang bisa dijadikan patokan seseorang disebut memiliki sikap dewasa?
Usia kah? Saya kurang setuju. Boleh saja dia berusia 30, 35, 40 atau bahkan 50 atau 60 tahun tapi itu bukan jaminan, buktinya; ingat wakil-wakil kita di DPR/MPR yang berantem? kekanakan sekali bukan! Mereka bukan saja `berusia` tapi juga berpendidikan. Hm...berarti pendidikan juga bukan jaminan seseorang bisa bersikap dewasa ya.
Pengalaman hidup kah? Apakah orang yang sudah merasakan asam, manis, pahit, pedas kehidupan secara otomatis jadi lebih dewasa? Orang bijak bilang pengalaman mendewasakan seseorang dengan kata lain karena ditempa dengan kehidupan seseorang menjadi dewasa. Lalu orang-orang yang hidupnya datar-datar saja tanpa gelombang-gelombang yang berarti apakah menjadi kurang dewasa? hmm.. (lagi) sepertinya perlu dipikirkan lebih dalam.
Sikap dewasa merupakan sesuatu yang perlu ditekankan dalam menghadapi sebuah masalah. Kita tahu bahwa sikap yang kekanak-kanakan justru dapat membuat sebuah masalah menjadi bertambah karena sikap yang diambil akan mempersulit masalah. Tetapi sikap yang dewasa dan bijaksana Insya Allah membuat urusan bisa teratasi dengan baik. Minimal ada tiga hal yang bisa dilakukan oleh kita untuk bisa belajar bersikap dewasa :
1. Tidak Emosional atau Tergesa-gesa.
Sikap tenang dan tidak emosional dibutuhkan baik ketika berkomentar, mengambil sikap, ataupun ketika menentukan sebuah keputusan. Karena andaikata tergesa-gesa biasanya keputusan yang diambil kurang tepat.Apalagi bila kurang ditunjang oleh data dan fakta yang akurat. Dan permasalahan akan bertambah jika disikapi pula dengan sikap yang emosional. Oleh karena itu kita harus latihan untuk bisa meredam sikap yang emosional.
2. Berlatih Untuk Bijak.
Kadang kala kita bisa mengambil keputusan atau sikap yang memang menyelesaikan sebuah masalah tetapi kadang kala dengan sikap yang kita pilih tersebut, ternyata ada pihak yang merasa terluka. Seharusnya jika kita ingin menasehati orang lain sebaiknya jangan sampai orang lain merasa digurui, kita menang tanpa orang lain merasa dikalahkan dan kita sukses tanpa orang lain merasa terdzolimi.Kita harus melatih diri sekuat tenaga untuk bisa merubah sesuatu tanpa kita merasa berjasa, atau orang lain merasa lebih rendah dan hina. Untuk bersikap seperti ini kita perlu berlatih untuk tidak menonjolkan diri seakan-akan kitalah yang paling bisa,paling pandai, paling mulia,paling berjasa. Karena semakin sering kita menonjolkan diri justru itulah sifat yang kekanak-kanakkan.
3. Semakin memperbaiki isi daripada topeng.
Orang yang senang memamerkan topeng adalah salah satu sikap yang kekanak-kanakkan. Untuk itulah kita harus lebih senang meningkatkan kualitas kepribadian, kualitas keimanan, kualitas keilmuan dan wawasan ,kualitas akhlak dan keikhlasan dibandingkan hanya sibuk memperbaiki kualitas rumah,kualitas baju ,dan kendaraan. Memang manusia tidak dilarang untuk memiliki dunia tetapi kalau hanya sibuk dengan dunia sedangkan dirinya terabaikan maka itulah yang akan menimbulkan masalah. Yang akan terjadi adalah dirinya akan semakin sibuk bersembunyi dibalik topeng karena takut kehilangan topengnya, akibatnya dia menjadi orang yang tidak jujur terhadap diri sendiri karena merasa pujian terhadap topeng adalah pujian terhadap dirinya dan orang yang bersandar biasanya selalu takut kehilangan tempatnya bersandar.
sumber : http://ssokoj.blogspot.com/2009/07/arti-sikap-dewasa.html
Berangkat dari pengalaman saya dan mungkin bukan saya saja yang melihat banyak orang berdoa sampai menangis dengan cucuran air mata (Fundamentalis tanpa sikap kritis), mereka yang berfikir (Intelektual tanpa bersikap) dan juga mereka (Pelaku spiritualitas tanpa sikap kritis). Mereka hanya asik bermain dalam keadaan yang hinggap pada backgroundnya masing-masing dan mereka selalu merasa sudah menjalankan apa yang menjadi panggilan semu terhadap keadaan kemiskinan dan keadilan tersebut.
Dan bila kita mau mengakui dan lebih bersikap jujur pada diri ini bahwa kitalah sendiri yang sebenarnya menjadi penghalang terbesar terhadap keadaan kemiskinan yang ada dan keadilan yang seharusnya mereka (proletar) dapatkan. Penghalang terbesar ini seperti tembok raksasa yang menjadi penghambat terangkuh dan terkuat yang hanya bisa di robohkan dengan sikap kritis diri sendiri dari pada kritis keluar diri (sudahkah kita berbuat sesuatu yang berguna, walaupun hal kecil terhadap mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan)
Sekarang kita mulai dengan semua pertanyaan-pertanyaan klasik terhadap tujuan hidup ini. Apa anda selalu memaknai hidup ini? Apa anda sudah melupakannya? Apa yang anda dapat dari pengaruh ajaran agama anda selama ini? Apa yang anda dapat dari pengaruh dari sistem yang anda banggakan selama ini? Apa itu semua telah mengubah kemiskinan di negara ini? Apa dengan itu semua terciptanya keadilan bagi mereka (kaum proletar) dalam hal pendidikan ataupun kesejahteraan? Apa kita sudah merasa bangga terhadap keadaan sekarang ini?
Berfikir dewasa belum tentu bersikap dewasa, kenapa? Karena memang inilah yang terjadi bukan? kita terlalu asik bermain pada awal tujuan tapi melupakan proses nyata yaitu bersikap pada kenyataan hidup, karena hidup bukan hanya berfikir yang hanya memasukan pengetahuan dalam gagasan, saya sangat yakin bahwa hidup bukan hanya dalam konsep ide dan tujuan tapi juga dengan gerak. Dan gerak disini dalam arti proses bersikap yaitu menjalankan semua yang sudah masuk dalam gagasan, imajinasi dan juga harapan dalam pemaknaan pada kehidupan nyata.
Manusia bisa saja dibilang manusia karena memang punya fikiran, ide dan mimpi tapi belum tentu di bilang kemanusiaan yaitu ke derajat yang lebih tinggi lagi. Kemanusiaan itu lahir dari sebuah rasa terhadap gerakan atas pemaknaan arti “manusia” sesungguhnya, karena gerak adalah bagian nyata hidup.
Kita selalu mengutamakan tujuan tapi kadang melupakan sikap (proses nyata) bukankah ini terbalik? Seharusnya tujuan itu menjadi awal segala bentuk sikap, tapi perlu di pastikan kembali bahwa proseslah yang utama, “tujuan adalah awal tapi yang utama adalah prosesnya”. Coba anda melihat di sekililing anda yaitu kaum proletar apa mereka tidak nyata untuk dilihat dengan mata ini maupun dengan mata hati anda?.
Kita selalu ingin merasa nyaman, kita terus bohong pada diri sendiri terlebih pada kenyataan. Mimpi dan juga harapan kita satu, yaitu ingin kebahagian, begitupun kaum proletar sudah pasti juga ingin bahagia. Satu-satunya finalnya adalah dengan jalan sikap (gerak).
Beberapa kebodohan yang sulit dihilangkan sepanjang sejarah manusia antara lain perang atas pembelaan agama dan juga kita yang selalu merasa sudah menjalankan konsep harapan terhadap hidup nyata padahal kemungkinan besar hanya dalam konsep diskusi dan opini saja.
Kemanusiaan tidak memandang agama, kemanusiaan bukan karena ideologi dan kemanusiaan bukan hanya untuk dijadikan konsep, tapi bila kita sudah bersikap dengan rasa kemanusiaan itulah yang saya sebut sebagai orang yang beragama dan orang yang berintelektual (aksi) yang telah membuktikan sikap membantu kaum proletar dan ikut serta pada kegiatan kemanusiaan, inilah orang-orang yang sudah tepat menjalankan ideologi dan keyakinan agamanya.
Musuh nyata kita adalah diri kita sendiri (ego). Jadi masalahnya bukan agama dan ideologinya tapi egonya.
"Menjadi tua adalah kepastian,
Menjadi dewasa adalah pilihan"
Dalam hidup ini, entah disadari atau tidak sesungguhnya kita mengalami sebuah proses belajar yang panjang, sejak kita dilahirkan proses itu dimulai, kita menjadi murid, sedang proses itu sendiri menjadi guru. melewati masalah demi masalah, dilewati atau kadang terlewati. dari sekian banyak masalah itu timbul sebuah pengalaman berharga, setidaknya ada yang bisa dipetik sebagai pelajaran, baik itu pelajaran baik maupun pahit.
ketika mengalami sebuah kegagalan pun sesungguhnya kita sedang ditempa untuk lebih berani dan berhati-hati menghadapi tantangan dan peluang. keberanian dan kehati-hatian seperti gas dan rem pada sebuah mobil, jika tidak berimbang menggunakannya pasti terjadi ketidak harmonian.
dalam pelajaran Emotional Quetion (EQ) sering kali digambarkan bahwa sikap emosional yang benar indikasinya adalah seseorang dapat bersikap dewasa.. sebenarnya seperti apakah bentuk sikap dewasa itu, beberapa ahli mendefinisikan sikap dewasa sebagai berikut :
a. pandai beradaptasi
b. tepat dalam berkata
c. berfikir sistematis/rasional
d. pandai mengendalikan emosi (marah, malu, takut, dst)
e. memiliki simpati dan empati
Sumber : http://jundi007.multiply.com/journal/item/18
digambarkan dalam sebuah kisah, seorang olahragawan sedang ditepi jalan, ia melakukan sedikit peregangan dgn meluruskan tubuh dan tangannya bertumpu pada sebuah mobil, mobil itu berada pada tepian jurang. gerakannya seperti hendak mendorong mobil, padahal sesungguhnya ia hanya sedang melakukan gerak peregangan tubuh.
disisi lain, seorang pengendara melihat olahragawan tadi, ia berhenti dan turun dari mobil, lalu berdiri disisi olahragawan, kemudian mendorong mobil itu kuat-kuat... mobil pun meluncur ketepi jurang.
dari sisi sang supir, menurut pengamatan singkatnya dan pengalamannya, gerakan olahragawan itu adalah gerakan orang yg ingin mendorong mobil. dengan rasa empati yg dia punya, ia berusaha membantunya dgn ikut mendorong.
tiada yang salah dari 2 hal ini, tapi jika saja, supir ini berusaha lebih memahami apa yg tengah dikerjakan oleh olahragawan tadi, tentu kejadian itu tidak terjadi.
kitapun seringkali terlibat masalah dgn orang lain, cekcok, bermusuhan, dls karena kita melihat masalah dari satu sisi saja, tidak berusaha melihat dari sisi lawan kita... (bahkan kadang tidak mau tau dgn kondisinya).
justru kita semakin dewasa manakala kita berusaha memahami, mempelajari, dan mengerti apa yg menjadi persoalan orang lain, memandang persoalan dari sisinya, bukan dari sisi kita, yang sering kali menyebabkan penilaian yang subjektif.
pada akhirnya, jika kita mampu menyelami perasaan orang lain, memahami nya, .. hampir dipastikan masalah dapat di eliminir, dapat di minimalisir dan hidup pun menjadi lebih indah.
Kembali pada pertanyaan di atas, berarti tidak ada donk yang bisa dijadikan jaminan seseorang bersikap dewasa. Saya rasa begitu. Sikap dewasa bukanlah keturunan dan tidak datang begitu saja. Namun dia bisa kita tumbuhkan sedikit demi sedikit dengan cara belajar. Usia, pengalaman dan pengetahuan hanyalah sarana pendukung untuk mendapatkannya.
sumber:
http://yunikogfa.blogspot.com/2010/12/mapping-subject-bersikap-dewasa_3038.html
Npm : 13110671
Kelas : 1KA16
Apa yang bisa dijadikan patokan seseorang disebut memiliki sikap dewasa?
Usia kah? Saya kurang setuju. Boleh saja dia berusia 30, 35, 40 atau bahkan 50 atau 60 tahun tapi itu bukan jaminan, buktinya; ingat wakil-wakil kita di DPR/MPR yang berantem? kekanakan sekali bukan! Mereka bukan saja `berusia` tapi juga berpendidikan. Hm...berarti pendidikan juga bukan jaminan seseorang bisa bersikap dewasa ya.
Pengalaman hidup kah? Apakah orang yang sudah merasakan asam, manis, pahit, pedas kehidupan secara otomatis jadi lebih dewasa? Orang bijak bilang pengalaman mendewasakan seseorang dengan kata lain karena ditempa dengan kehidupan seseorang menjadi dewasa. Lalu orang-orang yang hidupnya datar-datar saja tanpa gelombang-gelombang yang berarti apakah menjadi kurang dewasa? hmm.. (lagi) sepertinya perlu dipikirkan lebih dalam.
Sikap dewasa merupakan sesuatu yang perlu ditekankan dalam menghadapi sebuah masalah. Kita tahu bahwa sikap yang kekanak-kanakan justru dapat membuat sebuah masalah menjadi bertambah karena sikap yang diambil akan mempersulit masalah. Tetapi sikap yang dewasa dan bijaksana Insya Allah membuat urusan bisa teratasi dengan baik. Minimal ada tiga hal yang bisa dilakukan oleh kita untuk bisa belajar bersikap dewasa :
1. Tidak Emosional atau Tergesa-gesa.
Sikap tenang dan tidak emosional dibutuhkan baik ketika berkomentar, mengambil sikap, ataupun ketika menentukan sebuah keputusan. Karena andaikata tergesa-gesa biasanya keputusan yang diambil kurang tepat.Apalagi bila kurang ditunjang oleh data dan fakta yang akurat. Dan permasalahan akan bertambah jika disikapi pula dengan sikap yang emosional. Oleh karena itu kita harus latihan untuk bisa meredam sikap yang emosional.
2. Berlatih Untuk Bijak.
Kadang kala kita bisa mengambil keputusan atau sikap yang memang menyelesaikan sebuah masalah tetapi kadang kala dengan sikap yang kita pilih tersebut, ternyata ada pihak yang merasa terluka. Seharusnya jika kita ingin menasehati orang lain sebaiknya jangan sampai orang lain merasa digurui, kita menang tanpa orang lain merasa dikalahkan dan kita sukses tanpa orang lain merasa terdzolimi.Kita harus melatih diri sekuat tenaga untuk bisa merubah sesuatu tanpa kita merasa berjasa, atau orang lain merasa lebih rendah dan hina. Untuk bersikap seperti ini kita perlu berlatih untuk tidak menonjolkan diri seakan-akan kitalah yang paling bisa,paling pandai, paling mulia,paling berjasa. Karena semakin sering kita menonjolkan diri justru itulah sifat yang kekanak-kanakkan.
3. Semakin memperbaiki isi daripada topeng.
Orang yang senang memamerkan topeng adalah salah satu sikap yang kekanak-kanakkan. Untuk itulah kita harus lebih senang meningkatkan kualitas kepribadian, kualitas keimanan, kualitas keilmuan dan wawasan ,kualitas akhlak dan keikhlasan dibandingkan hanya sibuk memperbaiki kualitas rumah,kualitas baju ,dan kendaraan. Memang manusia tidak dilarang untuk memiliki dunia tetapi kalau hanya sibuk dengan dunia sedangkan dirinya terabaikan maka itulah yang akan menimbulkan masalah. Yang akan terjadi adalah dirinya akan semakin sibuk bersembunyi dibalik topeng karena takut kehilangan topengnya, akibatnya dia menjadi orang yang tidak jujur terhadap diri sendiri karena merasa pujian terhadap topeng adalah pujian terhadap dirinya dan orang yang bersandar biasanya selalu takut kehilangan tempatnya bersandar.
sumber : http://ssokoj.blogspot.com/2009/07/arti-sikap-dewasa.html
Berangkat dari pengalaman saya dan mungkin bukan saya saja yang melihat banyak orang berdoa sampai menangis dengan cucuran air mata (Fundamentalis tanpa sikap kritis), mereka yang berfikir (Intelektual tanpa bersikap) dan juga mereka (Pelaku spiritualitas tanpa sikap kritis). Mereka hanya asik bermain dalam keadaan yang hinggap pada backgroundnya masing-masing dan mereka selalu merasa sudah menjalankan apa yang menjadi panggilan semu terhadap keadaan kemiskinan dan keadilan tersebut.
Dan bila kita mau mengakui dan lebih bersikap jujur pada diri ini bahwa kitalah sendiri yang sebenarnya menjadi penghalang terbesar terhadap keadaan kemiskinan yang ada dan keadilan yang seharusnya mereka (proletar) dapatkan. Penghalang terbesar ini seperti tembok raksasa yang menjadi penghambat terangkuh dan terkuat yang hanya bisa di robohkan dengan sikap kritis diri sendiri dari pada kritis keluar diri (sudahkah kita berbuat sesuatu yang berguna, walaupun hal kecil terhadap mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan)
Sekarang kita mulai dengan semua pertanyaan-pertanyaan klasik terhadap tujuan hidup ini. Apa anda selalu memaknai hidup ini? Apa anda sudah melupakannya? Apa yang anda dapat dari pengaruh ajaran agama anda selama ini? Apa yang anda dapat dari pengaruh dari sistem yang anda banggakan selama ini? Apa itu semua telah mengubah kemiskinan di negara ini? Apa dengan itu semua terciptanya keadilan bagi mereka (kaum proletar) dalam hal pendidikan ataupun kesejahteraan? Apa kita sudah merasa bangga terhadap keadaan sekarang ini?
Berfikir dewasa belum tentu bersikap dewasa, kenapa? Karena memang inilah yang terjadi bukan? kita terlalu asik bermain pada awal tujuan tapi melupakan proses nyata yaitu bersikap pada kenyataan hidup, karena hidup bukan hanya berfikir yang hanya memasukan pengetahuan dalam gagasan, saya sangat yakin bahwa hidup bukan hanya dalam konsep ide dan tujuan tapi juga dengan gerak. Dan gerak disini dalam arti proses bersikap yaitu menjalankan semua yang sudah masuk dalam gagasan, imajinasi dan juga harapan dalam pemaknaan pada kehidupan nyata.
Manusia bisa saja dibilang manusia karena memang punya fikiran, ide dan mimpi tapi belum tentu di bilang kemanusiaan yaitu ke derajat yang lebih tinggi lagi. Kemanusiaan itu lahir dari sebuah rasa terhadap gerakan atas pemaknaan arti “manusia” sesungguhnya, karena gerak adalah bagian nyata hidup.
Kita selalu mengutamakan tujuan tapi kadang melupakan sikap (proses nyata) bukankah ini terbalik? Seharusnya tujuan itu menjadi awal segala bentuk sikap, tapi perlu di pastikan kembali bahwa proseslah yang utama, “tujuan adalah awal tapi yang utama adalah prosesnya”. Coba anda melihat di sekililing anda yaitu kaum proletar apa mereka tidak nyata untuk dilihat dengan mata ini maupun dengan mata hati anda?.
Kita selalu ingin merasa nyaman, kita terus bohong pada diri sendiri terlebih pada kenyataan. Mimpi dan juga harapan kita satu, yaitu ingin kebahagian, begitupun kaum proletar sudah pasti juga ingin bahagia. Satu-satunya finalnya adalah dengan jalan sikap (gerak).
Beberapa kebodohan yang sulit dihilangkan sepanjang sejarah manusia antara lain perang atas pembelaan agama dan juga kita yang selalu merasa sudah menjalankan konsep harapan terhadap hidup nyata padahal kemungkinan besar hanya dalam konsep diskusi dan opini saja.
Kemanusiaan tidak memandang agama, kemanusiaan bukan karena ideologi dan kemanusiaan bukan hanya untuk dijadikan konsep, tapi bila kita sudah bersikap dengan rasa kemanusiaan itulah yang saya sebut sebagai orang yang beragama dan orang yang berintelektual (aksi) yang telah membuktikan sikap membantu kaum proletar dan ikut serta pada kegiatan kemanusiaan, inilah orang-orang yang sudah tepat menjalankan ideologi dan keyakinan agamanya.
Musuh nyata kita adalah diri kita sendiri (ego). Jadi masalahnya bukan agama dan ideologinya tapi egonya.
"Menjadi tua adalah kepastian,
Menjadi dewasa adalah pilihan"
Dalam hidup ini, entah disadari atau tidak sesungguhnya kita mengalami sebuah proses belajar yang panjang, sejak kita dilahirkan proses itu dimulai, kita menjadi murid, sedang proses itu sendiri menjadi guru. melewati masalah demi masalah, dilewati atau kadang terlewati. dari sekian banyak masalah itu timbul sebuah pengalaman berharga, setidaknya ada yang bisa dipetik sebagai pelajaran, baik itu pelajaran baik maupun pahit.
ketika mengalami sebuah kegagalan pun sesungguhnya kita sedang ditempa untuk lebih berani dan berhati-hati menghadapi tantangan dan peluang. keberanian dan kehati-hatian seperti gas dan rem pada sebuah mobil, jika tidak berimbang menggunakannya pasti terjadi ketidak harmonian.
dalam pelajaran Emotional Quetion (EQ) sering kali digambarkan bahwa sikap emosional yang benar indikasinya adalah seseorang dapat bersikap dewasa.. sebenarnya seperti apakah bentuk sikap dewasa itu, beberapa ahli mendefinisikan sikap dewasa sebagai berikut :
a. pandai beradaptasi
b. tepat dalam berkata
c. berfikir sistematis/rasional
d. pandai mengendalikan emosi (marah, malu, takut, dst)
e. memiliki simpati dan empati
Sumber : http://jundi007.multiply.com/journal/item/18
digambarkan dalam sebuah kisah, seorang olahragawan sedang ditepi jalan, ia melakukan sedikit peregangan dgn meluruskan tubuh dan tangannya bertumpu pada sebuah mobil, mobil itu berada pada tepian jurang. gerakannya seperti hendak mendorong mobil, padahal sesungguhnya ia hanya sedang melakukan gerak peregangan tubuh.
disisi lain, seorang pengendara melihat olahragawan tadi, ia berhenti dan turun dari mobil, lalu berdiri disisi olahragawan, kemudian mendorong mobil itu kuat-kuat... mobil pun meluncur ketepi jurang.
dari sisi sang supir, menurut pengamatan singkatnya dan pengalamannya, gerakan olahragawan itu adalah gerakan orang yg ingin mendorong mobil. dengan rasa empati yg dia punya, ia berusaha membantunya dgn ikut mendorong.
tiada yang salah dari 2 hal ini, tapi jika saja, supir ini berusaha lebih memahami apa yg tengah dikerjakan oleh olahragawan tadi, tentu kejadian itu tidak terjadi.
kitapun seringkali terlibat masalah dgn orang lain, cekcok, bermusuhan, dls karena kita melihat masalah dari satu sisi saja, tidak berusaha melihat dari sisi lawan kita... (bahkan kadang tidak mau tau dgn kondisinya).
justru kita semakin dewasa manakala kita berusaha memahami, mempelajari, dan mengerti apa yg menjadi persoalan orang lain, memandang persoalan dari sisinya, bukan dari sisi kita, yang sering kali menyebabkan penilaian yang subjektif.
pada akhirnya, jika kita mampu menyelami perasaan orang lain, memahami nya, .. hampir dipastikan masalah dapat di eliminir, dapat di minimalisir dan hidup pun menjadi lebih indah.
Kembali pada pertanyaan di atas, berarti tidak ada donk yang bisa dijadikan jaminan seseorang bersikap dewasa. Saya rasa begitu. Sikap dewasa bukanlah keturunan dan tidak datang begitu saja. Namun dia bisa kita tumbuhkan sedikit demi sedikit dengan cara belajar. Usia, pengalaman dan pengetahuan hanyalah sarana pendukung untuk mendapatkannya.
sumber:
http://yunikogfa.blogspot.com/2010/12/mapping-subject-bersikap-dewasa_3038.html
MAPPING THE SUBJECT - Kepedulian
Nama : Isni Liani
NPM : 13110671
Kelas : 1KA16
Mengapa terkadang orang – orang tidak perduli dengan orang lain disekitarnya?
Petama – tama dapat dijelaskan arti dari peduli.
Peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di sekitar kita. Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita.
Orang-orang peduli adalah mereka yang terpanggil melakukan sesuatu dalam rangka memberi inspirasi, perubahan, kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya.Ketika ia melihat suatu keadaan tertentu, ketika ia menyaksikan kondisi masyarakat maka dirinya akan tergerak melakukan sesuatu. Apa yang dilakukan ini diharapkan dapat memperbaiki atau membantu kondisi di sekitarnya.
Sikap peduli adalah sikap keterpanggilan untuk membantu mereka yang lemah, miskin, membantu mengatasi penderitaan, dan kesulitan yang dihadapi orang lain.
Orang-orang peduli adalah orang-orang yang tidak bisa tinggal diam menyaksikan penderitaan orang lain.
Sikap peduli adalah sikap untuk pro aktif dalam mengatasi masalah-masalah di masyarakat dengan menggunakan dan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat.
Sikap peduli adalah sikap kesediaan untuk memberi solusi terhadap persoalan masyarakat. Agar masyarakat dapat mau berdonasi, agar masyarakat mau menyumbang, agar masyarakat memilih kerelawanan sehingga mau membantu kesulitan saudara-saudara kita.
Peduli Adalah sikap untuk memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, selalu tergerak membantu kesulitan manusia lainnya. Sikap peduli adalah sikap untuk berusaha membangkitkan kemandirian yang ada di masyarakat.
Orang-orang yang peduli adalah orang-orang yang tidak bisa tinggal diam, melihat kelemahan, sikap berpangku tangan dan membiarkan keadaan-keadaan yang buruk terus terjadi di masyarakat.
Sikap peduli adalah suatu sikap untuk senantiasa ikut merasakan penderitaan orang lain, ikut merasakan ketika penderitaan sebagian masyarakat lain sedang sakit, ikut merasa bersedih ketika sebagian saudara-saudara kita di timpa musibah bencana, kesulitan atau ditimpa keadaan-keadaan yang memberatkan dan membangkitkan rasa kasihan dan iba.
Sebagai organisasi yang dilahirkan dari rahim penderitaan masyarakat, terutama masyarakat yang hidup dalam kondisi kekurangan dan selalu menderita, maka kewajiban organisasi yang paling utama adalah senantiasa menempatkan diri dalam posisi membela kepentingan mereka, memperjuangkan hak-hak mereka, menjadi pendamping dan teman bagi kehidupannya serta mengadvokasi dan menolong masyarakat kecil dan tertindas (mustad'afin) itu.
Karena kondisi seperti itulah, maka organisasi akan terdorong untuk mengemas berbagai program sebagai bagian dari pertolongan dan pembelaan terhadap nasib orang-orang yang tertindas. Upaya lain yang dilakukan adalah dengan senantiasa menyuarakan dan mengadvokasi kesulitan dan ketertindasan masyarakat yang hidup kekurangan itu.
Sebagai organisasi yang berperan membantu masyarakat yang tidak mampu, maka menolong masyarakat yang paling membutuhkan adalah hal yang menjadi prioritas. Manakala terdapat sejumlah orang yang memerlukan bantuan, akan tetapi ketersediaan sumber daya terbatas sehingga tidak mungkin membantu keseluruhan orang yang memerlukan bantuan, maka organisasi akan memprioritaskan yang paling membutuhkan.
Terlebih pada saat terjadi bencana, maka mengutamakan yang paling menderita adalah menjadi prioritas utama. Dalam konteks tingkat kualitas yang sama di antara sejumlah orang yang memerlukan bantuan, tetap saja terdapat perbedaan kesulitan kehidupan, kemiskinan atau tingkat penderitaan, maka organisasi akan mengutamakan yang paling membutuhkan (yang paling menderita).
Orang-orang sudah mulai untuk TIDAK! memperhatikan sekitarnya.
Apakah kita sekarang sudah sangat-sangat INDIVIDUALISTIS ?
Apa yang terjadi?
Aku ini seorang yang awam, tapi aku masih peduli……..
Aku peduli karena aku hidup ditengah masyarakatku yang juga peduli pada sekitarnya. Jadi kami adalah sekelompok MASYARAKAT KECIL yang masih peduli di tengah-tengah MASYARAKAT BESAR yang jumlahnya lebih sedikit tapi mulai melupakan darimana mereka berangkat, siapa yang mengantar mereka, dan apa yang mereka HUTANGKAN kepada kami.
Entah jadi apa kami ini nanti, jumlah kami banyak. Sangat banyak, tapi lebih sering kami tidak didengar, apalagi diperhatikan. Mungkin salah kalau saya bilang kami sering TIDAK diperhatikan, yang pastinya ada yang memperhatikan kami. Tapi ya begitu…diperhatikan dari jauh, tapi tidak ada tindakan nyata yang menyeluruh. mungkin istilahnya lebih tepat kami ini DIAMATI daripada diperhatikan.
Pikir MEREKA ” Maunya apa mereka yang lebih banyak dari KITA itu? Jangan lengah, AMATI terus!!! kalo dirasa ada sinyal yan kurang bagus buat kita, kasih aja yang mereka mau asal jangan kita kasih semua….perwakilan aja yang paling VOKAL. Nti juga DIAM”.
Apakah benar pikiran mereka begitu? Tidak akan ada yang tahu. Yang tahu cuma TUHAN dan Kepada Nya lah kita berserah juga berdoa semoga pikiran MEREKA tidak begitu.
Semoga saja MEREKA benar-benar memperhatikan kita, hanya saja sebagian kita belum terjangkau oleh perhatian MEREKA karena kendala jarak dan waktu. Dan bila saatnya nanti, kita juga dapat giliran untuk mendapatkan perhatian yang TULUS dari MEREKA.
BERSABAR saja, lakukan saja yang kita bisa agar kita masih bisa untuk tetap peduli meski dalam lingkup yang KECIL.!
SALUT bagi MEREKA! yang Benar-benar Perhatian pada kami, yang TIDAK maka terserah mereka yang pada akhirnya ada PENGADILAN yang benar-benar ADIL dan tidak terbantahkan dengan Saksi yang melekat pada tubuh KITA.
Sudah berulangkali peringatan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr Hamid Abu Zaid disampaikan, tetap saja paham seperti itu disebarkan. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-240
Dalam bukunya yang terkenal, Islam at the Crossroads, Muhammad Asad/Leopold Weiss mengingatkan umat Islam, bahwa: ”The Imitation – individually and socially – of the Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest danger for the existence – or rather , the revival – of Islamic civilization.”
Jadi, kata Asad, penjiplakan kaum Muslim – baik secara individual maupun sosial – terhadap gaya hidup Barat tanpa diragukan lagi adalah bahaya terbesar dari eksistensi dan kebangkitan kembali peradaban Islam. Buku Asad ini terbit pertama tahun 1934 dan telah ditejemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku kecil ini memberikan gambaran yang tajam tentang hakekat peradaban Barat yang disebut oleh Asad, sebagai peradaban yang memuja materi dan anti-agama (irrelegious in its very essence).
Lihatlah nilai-nilai peradaban Barat yang kini menyerbu rumah-rumah kita melalui media hiburan. Film-film, lagu, sinetron yang dijejalkan kepada generasi muda kita dipenuhi dengan urusan seputar syahwat jasadiah, baik menyangkut makanan maupun urusan seksual. Peradaban ini sangat mengagungkan unsur-unsur fisik. Jangan heran, jika dalam peradaban ini, wanita lebih dihargai karena unsur-unsur fisiknya. Kontes nyanyi dan loma kecantikan menjadi upacara yang sangat diagungkan, disiarkan ke seluruh penjuru dunia, tanpa peduli urusan moral.
Dalam kontes-kontes kecantikan seperti itu, setiap jengkal tubuh wanita diukur, ditelaah, dan dinilai untuk selanjutnya dipaparkan kepada publik. Bahwa si A memiliki tubuh terseksi di dunia. Media-media hiburan sibuk membuat ranking tentang wanita yang memiliki tubuh terindah. Bahkan, konon di suatu negara, ada majalah yang khusus menyajikan berita seputar alat kelamin wanita. Kata mereka, semua itu adalah ekspresi keindahan. Semua itu tidak ada hubungannya dengan pornografi, tetapi ekspresi seni.
Salah satu buah dari reformasi di Indonesia adalah kebebasan dalam kontes-kontes kecantikan. Sudah beberapa tahun, Putri Indonesia senantisa tampil dalam acara pemilihan Miss Universe. Meskipun harus tampil secara vulgar dalam pakaian bikini, kontes seperti itu tetap dilakukan, dan televisi di Indonesia pun berlomba menyiarkan acara tersebut. Tidak ada rasa malu lagi untuk tampil dengan membuka aurat. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk mendapatkan penghargaan sebagai ”Ratu Kecantikan”.
Dengan cara itu, mungkin mereka ingin membuktikan, bahwa ternyata wanita Indonesia tidak kalah cantiknya dengan wanita negara lain? Lalu untuk apa? Katanya, untuk pariwisata. Biar turis mau datang. Biar diakui, bahwa negara Indonesia banyak wanita cantik. Setelah itu?
Aneh! Inikah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Inikah negara yang menginginkan mendapat berkah dari Allah? Beginikah cara memajukan bangsa yang sedang terpuruk? Naif! Naif sekali! Akal yang sederhana pun tahu, bahwa bangsa ini akan bangkit jika rakyatnya mau belajar dan bekerja keras. Bangsa ini memerlukan pemimpin yang berani berpikir besar dan berani melakukan tindakan besar, bukan dengan mengirimkan wanita untuk mengumbar aurat di kontes ratu kecantikan. Para ulama sudah berteriak-teriak minta agar acara semacam itu dihentikan. Tetapi, pemerintah diam saja. DPR diam saja. Barangkali takut dikecam media. Takut dibilang kolot. Takut dibilang sok-moralis. Takut dibilang melanggar HAM. Memang, di alam reformasi dan kebebasan seperti ini, protes tidak dilarang, tetapi tidak perlu didengarkan.
Tokoh agama sudah teriak-teriak agar acara-acara yang menonjolkan unsur-unsur homoseksual dan lesbian dihentikan. Tetaoi, protes itu pun dianggap angin lalu. Televisi tetap saja menayangkan tontonan seperti itu. Ulama sudah berteriak, hentikan tayangan judi via SMS. Tapi, TV pun tidak peduli. Jalan terus! Yang penting dapat untung! Para ulama juga tidak menyerah untuk mengimbau agar tayangan-tayangan klenik dihentikan. Tapi, seruan itu juga diangap sebagai angin lalu. Yang penting untung, yang penting dapat duit banyak. Yang penting, acaranya laku, iklan banyak. Tidak peduli, apakah tayangan itu merusak moral atau tidak; tayangan itu meruntuhkan sendi-sendi kekuatan bangsa atau tidak. Tidak peduli!
Sikap tidak peduli itu pula yang kini banyak menjangkiti banyak kalangan akademisi yang sudah tergila-gila untuk mem-Barat-kan Islam. Mereka tidak mau peduli dengan segala macam kritik. Banyak yang menganggap ini masalah remeh. Tidak peduli! Buku-buku yang merusak pemikiran Islam terus diterbitkan. Meskipun sudah diketahui sebagai buku yang salah. Tidak peduli!
Meskipun sudah berulangkali kita paparkan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr Hamid Abu Zaid, tetap saja mereka menganggap kritikan itu sebagai angin lalu. Tidak peduli! Meskipun paham multikulturalisme sudah kita kritik, tetap saja paham itu disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak peduli! Meskipun sudah kita tunjukkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Quran atau pun kita tunjukkan kekeliruan dalam mengungkap data-datanya, tetap saja tidak peduli. Berulangkali kita tunjukkan bahwa ada guru besar yang kerjaannya sebagai penghulu swasta dan mengawinkan pasangan beda agama, tetap saja para petinggi kampusnya tidak peduli. Meskipun tahu ada dosen yang kerjaannya mengkampanyekan kehalalan perkawinan sesama jenis, tetap saja hal itu dianggap sebagai ”wacana”. Tidak peduli!
Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini, baik kalangan pemerintah maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan? Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan istrinya, apakah pantas dia disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya, apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan perilaku siswanya, apakah pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan ulama sudah tidak peduli dengan perilaku umatnya, apakah pantas dia disebut cendekiawan atau ulama?
Dalam tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli dengan kemunkaran dalam soal aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam soal-soal yang fisik, karena Barat memang peradaban yang sangat memuja materi. Mereka tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli dengan urusan korupsi dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli apakah seseorang beriman atau kufur, apakah seorang berdosa atau tidak. Mereka tidak peduli dengan semua itu! Yang penting masyarakat menjalankan ketertiban atau tidak. Itu yang mereka peduli.
Karakter masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam. Sebab, dalam pandangan Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah masalah keimanan. Maka, tugas pemimpin negara – disamping menyejahterakan kehidupan rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu, dalam pandangan Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru melindungi dan menegakkan Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi. Kita sudah sering membahas, bagaimana azab Allah akan turun ketika umat Islam melalaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.
Dalam kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar kita senantiasa menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap kaum Muslim dan terutama kepada para pemimpinnya. Kita sangat prihatin dengan masih adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan Muslim terhadap tokoh dan pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya itu keliru atau tidak. Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di dunia dan akhirat kepada sang pemimpin. Padahal, pemimpin itu bukan nabi, dan mungkin saja keliru dalam pemikiran dan kebijakan yang diambilnya.
Karena sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang marah-marah jika pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais dikritik; ada pula yang tidak terima ketika Nurcholish Madjid dikritisi pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid dikritik. Tidak sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau kelompoknya melebihi fanatiknya kepada Islam itu sendiri, sehingga dia sangat marah ketika kelompok atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang pemimpin jelas-jelas salah, dia tidak mau mengritiknya dan berusaha keras menutupinya, supaya pemimpin dan kelompoknya tidak jatuh martabat.
Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah saw sama sekali tidak mencontohkan sikap semacam itu. Berkembangnya tradisi ilmu senantiasa diikuti dengan budaya kritis di tengah masyarakat, meskipun sikap kritis itu tetap berpijak kepada adab. Budaya kultus dan taqlid yang membabi buta justru bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga akan merugikan sang pemimpin sendiri.
Pada tahun 2008 ini, misalnya, terbit sebuah buku berjudul ”99 Keistimewaan Gus Dur.”Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin Iskandar menulis, bahwa ”Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu mengawal, mendampingi dan mengayomi masyarakatnya menuju proses pembentukan kemandirian dan kehidupan yang demokratis.” Masih menurut Muhaimin, ”Gus Dur merupakan bagian dari kekayaan yang dimiliki bangsa ini yang patut diteladani oleh siapa pun yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan umat.”
Tentu saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh Abdurrahman Wahid sebagai ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga diberikan oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam pengantarnya untuk buku ini. Aqiel mengisahkan, bahwa Gus Dur mampu mengenali seorang waliyullah. Suatu ketika, Gus Dur menemui seorang yang penampilannya sangat sederhana layaknya seorang ”gembel”. Ternyata, menurut Aqiel Siraj, yang ditemui Gus Dur itu adalah seorang wali yang sedang menyamar. Begitu ketemu, Gus Dur minta didoakan oleh orang tersebut. Aqiel menulis: ”Rupanya, Gus Durlah yang berhasil menyingkap sosok waliyullah tersebut. Sementara kewalian itu hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah.”
Jadi, dengan cerita itu, apakah berarti Abdurrahman Wahid adalah seorang waliyullah? Wallahu a’lam. Hanya Allah yang tahu.
Salah satu dari 99 keistimewaan Abdurrahman Wahid yang disebutkan dalam buku ini adalah kegigihannya dalam membela kaum tertindas. Contoh kaum tertindas yang dibela Abdurrahman Wahid adalah Ahmad Dani, Inul Daratista, kelompok Ahmadiyah, Tabloid Monitor, dan sejenisnya.
Kita bisa bersikap kritis terhadap posisi Abdurrahman Wahid dalam soal-soal tersebut. Benarkah Inul merupakan seorang wanita yang tertindas? Benarkah Ahmad Dhani termasuk kaum yang tertindas? Dan sebagainya. Jika Inul dikatakan sebagai makhluk tertindas, bagaimana dengan ribuan ibu-ibu dan anak-anak yang ditindas oleh berbagai tayangan TV yang merusak moral? Mereka tertidas, dan mereka tidak berdaya. Inul justru bergelimang harta dan dibela habis-habisan oleh kekuatan industri hiburan yang sangat fasis. Kita pun bisa bertanya, dimana posisi Abdurrahman Wahid dalam kasus penindasan rakyat Palestina, di posisi Israel atau rakyat Palestina? Mengapa dia lebih memilih bersahabat dengan Shimon Peres?
Kita maklum, bahwa para pendukung seorang tokoh kadangkala membuat pemaparan yang mengagungkan sang tokoh. Ketokohan Abdurrahman Wahid tidaklah diragukan. Banyak keistimewaan dimilikinya. Karena itulah, ketika akan mendeklarasikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), para kyai senior di NU pun seperti merasa perlu menerbitkan sebuah buku kecil berjudul
Kita tunggu saja akhir dari semua ”permainan” semacam ini. Kita yakin, Allah Maha Tahu apa yang sebenarnya terjadi. Allah tahu siapa yang benar dan siapa yang dusta. Pasti akan ada balasan untuk masing-masing. Para tokoh itu akan mempartanggungjawabkan perbuatannya sendiri kepada Allah SWT. Kita pun demikian. Di akhirat nanti, mereka akan berlepas tangan, dan tidak mau menanggung dosa-dosa kita.
Yang penting, kita tetap diwajibkan berdakwah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Mudah-mudahan, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu dan tidak peduli dengan berbagai persoalan umat. Sebab, kata Rasulullah saw, barangsiapa yang bangun pagi dan tidak peduli dengan urusan umat, maka dia bukan bagian dari umat Islam.
Selain dari sikap – sikap diatas ada hal yang lain yan gdapat saya jelaskan tentang bagaimana sesorang itu tidak peduli dengan keadaan disekitarnya. Hal ini terkadnag tergantung dengan manusia itu sendiri. Bagaimana cara didikannya didalam keluarganya atauapun faktor dari orang lain.
Kita dapat mabil contoh yang pertama adalah kemiskinan yang ada diindonesia :
Dalam tahun ke tahun masyarakat miskin diindinesia sangat banyak enatah apa yang terjadi apabila masih akan bertambah masyarakt miskinnya. Kita lihat saja di Jakarta ini, sangat banyak masnyarakat miskin. Mungkin penyebabnya adalah mereka kekurangan lapangan pekerjaan didaerahnya masing – masing. Apabila dilihat didaerah kebanyakan amsyarakat hanya menjadi buruh entah itu buruh tani atau buruh yang lain. Semakin lama penduduk desa semakin banyak, orang yang ingin bekerja pun semakin banyak, semakin sedikit lapangan pekerjaan yang ada. Sikap yang terjadi saat ini adalah pemerintah Indonesia mengabaikan keadaan masyarak miskin itu. Sampai akhirnya mereka berfikir ingin berpindah dari desa ke kota agar nasib mereka lebih baik di kota. Tapi hal itu masih tergantung pada seleksi alam di kota. Apabila orang yang berpindah malas maka ia akan terbuang atau menjadi tidak mempunyai pekerjaan namun apabila ia kreatif dan bersemangat maka ia akan mendapatkan pekerjaan bahkan dapat menciptakan lapangan pkerjaan sendiri. Semua yang dilakukan pasti ada seleksi alam siapa yang kreatif itu yang berhasil. Orang – orang yang tidak berhasil dia akan menjadi orang pemalas tidak bersemangat bekerja atau menjadi masyarakat miskin yang pekerjaannya tidak jelas. Kita dapat melihatnya di jalan –jalan di ibu kota ini banyak para pengemis, gembel, anak jalanan dan lainnya. Mereka itulah yang terkena seleksi alam. Mungkin ada beberapa orang yang merasa kasihan tapi ada beberapa orang yang menghiraukan mereka. Yang mernghiraukan ini lah mungkin berfikiran“siapa suruh pindah ke kota hanya memenuhi kesibukan dikota saja” mungkin bagi orang yan gseperti mereka sangat terganggu dengan keadaan para pengemis atau masyarakat miskin itu. Ada juga cara dari orang yang peduli dengan memberikan uang atau barng lainnya. Mengapa seperti itu? Mereka merasa iba dengan keadaan mungkin mereka berfikir apabila mereka berada diposisi seerti itu. Kebijakan dari pemerintah seperti mangadakan razia juga tidak efektif mereka dibawa ke panti sosial uttuk dibina dan diajarka seni seperti menjahit dan seni tnagan lainnya. Namun dari ada juga yang melarikan diri menjadi pengemis atau pengamen. Mengapa mereka tidak ingin dibina dan lebih memilih dijalanna? Hal seperti itu disebabkan mereka tidah betah dengan keadaannya. Mereka tidak mendapat uang dengan cepat. Peduli atau tidak peduli pemerintah dengan keadaan mereka yang seperti itu.
Saran saya adalah bagaimana bila pemerintah membuka lapangan pekerjaan agar masyarakat yang kekurangan dapat bekerja dan masyarak yang kekurangan tidak boleh bermalas – malasan dan hanya menunggu lapangan pekerjaan. Harus memiliki inisiatif, pantang menyerah, dan kreatif agar mereka tidak menjadi masyarakat yang kekurangan. Sangat miris sekali apabila Indonesia di cap sebagai pemerintah yang tidak peduli dengan masyarakatnya. Semua masyarakat seharusnya ambil andil dalam hal ini. Mengapa? Karena kita berada di negara demokrasi negara yang dianggap negara lain kaya akan hasil alamnya yang seharusnya bisa memanfaatkannya dengan baik dan tidak dimanfaatkan oleh negara lain.
Ketidak pedulian dari masyarakat akan membawa bencana bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Apa sebabnya? Mungkin mereka akan terus terganggu dengan masyarakat yang kekurangan yang belum bisa memnuhi kebutuhan hidupnya dan sangat prihatin untuk masyarakat yang kurang mampu tesebut. Yang dapat saya amati bahkan orang yang kekurangan tersebut juga tidak peduli dengan keadaannya. Mereka tetap malas dan tidak ingin berusahan yang lebih. Bgaimana pemerintah ingin mensejahterakan mereka? Sikap pemerintah dan siksap dari masyarakat itu sendiri harus balance (seimbang) apabila tidak begitu tidak akan ada masyarakat yang sejahtera dan akan terus kekurangan walaupun salah satunya sudah diperbaiki sikapnya.
Itulah yang dapat saya amati dan saya tulis disini. Sebaiknya kita semua peduli dengan keadaan disekitar kita. Dimanapun kita berada, seberapa tinggi jabatan kita. Kita tetap harus peduli agar semua menjadi sejahtera.
sumber:
http://fitriapratiwi.blogspot.com/2010/11/mapping-subject-mengapa-orang-tidak.html
NPM : 13110671
Kelas : 1KA16
Mengapa terkadang orang – orang tidak perduli dengan orang lain disekitarnya?
Petama – tama dapat dijelaskan arti dari peduli.
Peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di sekitar kita. Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita.
Orang-orang peduli adalah mereka yang terpanggil melakukan sesuatu dalam rangka memberi inspirasi, perubahan, kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya.Ketika ia melihat suatu keadaan tertentu, ketika ia menyaksikan kondisi masyarakat maka dirinya akan tergerak melakukan sesuatu. Apa yang dilakukan ini diharapkan dapat memperbaiki atau membantu kondisi di sekitarnya.
Sikap peduli adalah sikap keterpanggilan untuk membantu mereka yang lemah, miskin, membantu mengatasi penderitaan, dan kesulitan yang dihadapi orang lain.
Orang-orang peduli adalah orang-orang yang tidak bisa tinggal diam menyaksikan penderitaan orang lain.
Sikap peduli adalah sikap untuk pro aktif dalam mengatasi masalah-masalah di masyarakat dengan menggunakan dan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat.
Sikap peduli adalah sikap kesediaan untuk memberi solusi terhadap persoalan masyarakat. Agar masyarakat dapat mau berdonasi, agar masyarakat mau menyumbang, agar masyarakat memilih kerelawanan sehingga mau membantu kesulitan saudara-saudara kita.
Peduli Adalah sikap untuk memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, selalu tergerak membantu kesulitan manusia lainnya. Sikap peduli adalah sikap untuk berusaha membangkitkan kemandirian yang ada di masyarakat.
Orang-orang yang peduli adalah orang-orang yang tidak bisa tinggal diam, melihat kelemahan, sikap berpangku tangan dan membiarkan keadaan-keadaan yang buruk terus terjadi di masyarakat.
Sikap peduli adalah suatu sikap untuk senantiasa ikut merasakan penderitaan orang lain, ikut merasakan ketika penderitaan sebagian masyarakat lain sedang sakit, ikut merasa bersedih ketika sebagian saudara-saudara kita di timpa musibah bencana, kesulitan atau ditimpa keadaan-keadaan yang memberatkan dan membangkitkan rasa kasihan dan iba.
Sebagai organisasi yang dilahirkan dari rahim penderitaan masyarakat, terutama masyarakat yang hidup dalam kondisi kekurangan dan selalu menderita, maka kewajiban organisasi yang paling utama adalah senantiasa menempatkan diri dalam posisi membela kepentingan mereka, memperjuangkan hak-hak mereka, menjadi pendamping dan teman bagi kehidupannya serta mengadvokasi dan menolong masyarakat kecil dan tertindas (mustad'afin) itu.
Karena kondisi seperti itulah, maka organisasi akan terdorong untuk mengemas berbagai program sebagai bagian dari pertolongan dan pembelaan terhadap nasib orang-orang yang tertindas. Upaya lain yang dilakukan adalah dengan senantiasa menyuarakan dan mengadvokasi kesulitan dan ketertindasan masyarakat yang hidup kekurangan itu.
Sebagai organisasi yang berperan membantu masyarakat yang tidak mampu, maka menolong masyarakat yang paling membutuhkan adalah hal yang menjadi prioritas. Manakala terdapat sejumlah orang yang memerlukan bantuan, akan tetapi ketersediaan sumber daya terbatas sehingga tidak mungkin membantu keseluruhan orang yang memerlukan bantuan, maka organisasi akan memprioritaskan yang paling membutuhkan.
Terlebih pada saat terjadi bencana, maka mengutamakan yang paling menderita adalah menjadi prioritas utama. Dalam konteks tingkat kualitas yang sama di antara sejumlah orang yang memerlukan bantuan, tetap saja terdapat perbedaan kesulitan kehidupan, kemiskinan atau tingkat penderitaan, maka organisasi akan mengutamakan yang paling membutuhkan (yang paling menderita).
Orang-orang sudah mulai untuk TIDAK! memperhatikan sekitarnya.
Apakah kita sekarang sudah sangat-sangat INDIVIDUALISTIS ?
Apa yang terjadi?
Aku ini seorang yang awam, tapi aku masih peduli……..
Aku peduli karena aku hidup ditengah masyarakatku yang juga peduli pada sekitarnya. Jadi kami adalah sekelompok MASYARAKAT KECIL yang masih peduli di tengah-tengah MASYARAKAT BESAR yang jumlahnya lebih sedikit tapi mulai melupakan darimana mereka berangkat, siapa yang mengantar mereka, dan apa yang mereka HUTANGKAN kepada kami.
Entah jadi apa kami ini nanti, jumlah kami banyak. Sangat banyak, tapi lebih sering kami tidak didengar, apalagi diperhatikan. Mungkin salah kalau saya bilang kami sering TIDAK diperhatikan, yang pastinya ada yang memperhatikan kami. Tapi ya begitu…diperhatikan dari jauh, tapi tidak ada tindakan nyata yang menyeluruh. mungkin istilahnya lebih tepat kami ini DIAMATI daripada diperhatikan.
Pikir MEREKA ” Maunya apa mereka yang lebih banyak dari KITA itu? Jangan lengah, AMATI terus!!! kalo dirasa ada sinyal yan kurang bagus buat kita, kasih aja yang mereka mau asal jangan kita kasih semua….perwakilan aja yang paling VOKAL. Nti juga DIAM”.
Apakah benar pikiran mereka begitu? Tidak akan ada yang tahu. Yang tahu cuma TUHAN dan Kepada Nya lah kita berserah juga berdoa semoga pikiran MEREKA tidak begitu.
Semoga saja MEREKA benar-benar memperhatikan kita, hanya saja sebagian kita belum terjangkau oleh perhatian MEREKA karena kendala jarak dan waktu. Dan bila saatnya nanti, kita juga dapat giliran untuk mendapatkan perhatian yang TULUS dari MEREKA.
BERSABAR saja, lakukan saja yang kita bisa agar kita masih bisa untuk tetap peduli meski dalam lingkup yang KECIL.!
SALUT bagi MEREKA! yang Benar-benar Perhatian pada kami, yang TIDAK maka terserah mereka yang pada akhirnya ada PENGADILAN yang benar-benar ADIL dan tidak terbantahkan dengan Saksi yang melekat pada tubuh KITA.
Sudah berulangkali peringatan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr Hamid Abu Zaid disampaikan, tetap saja paham seperti itu disebarkan. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-240
Dalam bukunya yang terkenal, Islam at the Crossroads, Muhammad Asad/Leopold Weiss mengingatkan umat Islam, bahwa: ”The Imitation – individually and socially – of the Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest danger for the existence – or rather , the revival – of Islamic civilization.”
Jadi, kata Asad, penjiplakan kaum Muslim – baik secara individual maupun sosial – terhadap gaya hidup Barat tanpa diragukan lagi adalah bahaya terbesar dari eksistensi dan kebangkitan kembali peradaban Islam. Buku Asad ini terbit pertama tahun 1934 dan telah ditejemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku kecil ini memberikan gambaran yang tajam tentang hakekat peradaban Barat yang disebut oleh Asad, sebagai peradaban yang memuja materi dan anti-agama (irrelegious in its very essence).
Lihatlah nilai-nilai peradaban Barat yang kini menyerbu rumah-rumah kita melalui media hiburan. Film-film, lagu, sinetron yang dijejalkan kepada generasi muda kita dipenuhi dengan urusan seputar syahwat jasadiah, baik menyangkut makanan maupun urusan seksual. Peradaban ini sangat mengagungkan unsur-unsur fisik. Jangan heran, jika dalam peradaban ini, wanita lebih dihargai karena unsur-unsur fisiknya. Kontes nyanyi dan loma kecantikan menjadi upacara yang sangat diagungkan, disiarkan ke seluruh penjuru dunia, tanpa peduli urusan moral.
Dalam kontes-kontes kecantikan seperti itu, setiap jengkal tubuh wanita diukur, ditelaah, dan dinilai untuk selanjutnya dipaparkan kepada publik. Bahwa si A memiliki tubuh terseksi di dunia. Media-media hiburan sibuk membuat ranking tentang wanita yang memiliki tubuh terindah. Bahkan, konon di suatu negara, ada majalah yang khusus menyajikan berita seputar alat kelamin wanita. Kata mereka, semua itu adalah ekspresi keindahan. Semua itu tidak ada hubungannya dengan pornografi, tetapi ekspresi seni.
Salah satu buah dari reformasi di Indonesia adalah kebebasan dalam kontes-kontes kecantikan. Sudah beberapa tahun, Putri Indonesia senantisa tampil dalam acara pemilihan Miss Universe. Meskipun harus tampil secara vulgar dalam pakaian bikini, kontes seperti itu tetap dilakukan, dan televisi di Indonesia pun berlomba menyiarkan acara tersebut. Tidak ada rasa malu lagi untuk tampil dengan membuka aurat. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk mendapatkan penghargaan sebagai ”Ratu Kecantikan”.
Dengan cara itu, mungkin mereka ingin membuktikan, bahwa ternyata wanita Indonesia tidak kalah cantiknya dengan wanita negara lain? Lalu untuk apa? Katanya, untuk pariwisata. Biar turis mau datang. Biar diakui, bahwa negara Indonesia banyak wanita cantik. Setelah itu?
Aneh! Inikah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Inikah negara yang menginginkan mendapat berkah dari Allah? Beginikah cara memajukan bangsa yang sedang terpuruk? Naif! Naif sekali! Akal yang sederhana pun tahu, bahwa bangsa ini akan bangkit jika rakyatnya mau belajar dan bekerja keras. Bangsa ini memerlukan pemimpin yang berani berpikir besar dan berani melakukan tindakan besar, bukan dengan mengirimkan wanita untuk mengumbar aurat di kontes ratu kecantikan. Para ulama sudah berteriak-teriak minta agar acara semacam itu dihentikan. Tetapi, pemerintah diam saja. DPR diam saja. Barangkali takut dikecam media. Takut dibilang kolot. Takut dibilang sok-moralis. Takut dibilang melanggar HAM. Memang, di alam reformasi dan kebebasan seperti ini, protes tidak dilarang, tetapi tidak perlu didengarkan.
Tokoh agama sudah teriak-teriak agar acara-acara yang menonjolkan unsur-unsur homoseksual dan lesbian dihentikan. Tetaoi, protes itu pun dianggap angin lalu. Televisi tetap saja menayangkan tontonan seperti itu. Ulama sudah berteriak, hentikan tayangan judi via SMS. Tapi, TV pun tidak peduli. Jalan terus! Yang penting dapat untung! Para ulama juga tidak menyerah untuk mengimbau agar tayangan-tayangan klenik dihentikan. Tapi, seruan itu juga diangap sebagai angin lalu. Yang penting untung, yang penting dapat duit banyak. Yang penting, acaranya laku, iklan banyak. Tidak peduli, apakah tayangan itu merusak moral atau tidak; tayangan itu meruntuhkan sendi-sendi kekuatan bangsa atau tidak. Tidak peduli!
Sikap tidak peduli itu pula yang kini banyak menjangkiti banyak kalangan akademisi yang sudah tergila-gila untuk mem-Barat-kan Islam. Mereka tidak mau peduli dengan segala macam kritik. Banyak yang menganggap ini masalah remeh. Tidak peduli! Buku-buku yang merusak pemikiran Islam terus diterbitkan. Meskipun sudah diketahui sebagai buku yang salah. Tidak peduli!
Meskipun sudah berulangkali kita paparkan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr Hamid Abu Zaid, tetap saja mereka menganggap kritikan itu sebagai angin lalu. Tidak peduli! Meskipun paham multikulturalisme sudah kita kritik, tetap saja paham itu disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak peduli! Meskipun sudah kita tunjukkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Quran atau pun kita tunjukkan kekeliruan dalam mengungkap data-datanya, tetap saja tidak peduli. Berulangkali kita tunjukkan bahwa ada guru besar yang kerjaannya sebagai penghulu swasta dan mengawinkan pasangan beda agama, tetap saja para petinggi kampusnya tidak peduli. Meskipun tahu ada dosen yang kerjaannya mengkampanyekan kehalalan perkawinan sesama jenis, tetap saja hal itu dianggap sebagai ”wacana”. Tidak peduli!
Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini, baik kalangan pemerintah maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan? Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan istrinya, apakah pantas dia disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya, apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan perilaku siswanya, apakah pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan ulama sudah tidak peduli dengan perilaku umatnya, apakah pantas dia disebut cendekiawan atau ulama?
Dalam tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli dengan kemunkaran dalam soal aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam soal-soal yang fisik, karena Barat memang peradaban yang sangat memuja materi. Mereka tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli dengan urusan korupsi dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli apakah seseorang beriman atau kufur, apakah seorang berdosa atau tidak. Mereka tidak peduli dengan semua itu! Yang penting masyarakat menjalankan ketertiban atau tidak. Itu yang mereka peduli.
Karakter masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam. Sebab, dalam pandangan Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah masalah keimanan. Maka, tugas pemimpin negara – disamping menyejahterakan kehidupan rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu, dalam pandangan Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru melindungi dan menegakkan Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi. Kita sudah sering membahas, bagaimana azab Allah akan turun ketika umat Islam melalaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.
Dalam kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar kita senantiasa menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap kaum Muslim dan terutama kepada para pemimpinnya. Kita sangat prihatin dengan masih adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan Muslim terhadap tokoh dan pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya itu keliru atau tidak. Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di dunia dan akhirat kepada sang pemimpin. Padahal, pemimpin itu bukan nabi, dan mungkin saja keliru dalam pemikiran dan kebijakan yang diambilnya.
Karena sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang marah-marah jika pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais dikritik; ada pula yang tidak terima ketika Nurcholish Madjid dikritisi pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid dikritik. Tidak sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau kelompoknya melebihi fanatiknya kepada Islam itu sendiri, sehingga dia sangat marah ketika kelompok atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang pemimpin jelas-jelas salah, dia tidak mau mengritiknya dan berusaha keras menutupinya, supaya pemimpin dan kelompoknya tidak jatuh martabat.
Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah saw sama sekali tidak mencontohkan sikap semacam itu. Berkembangnya tradisi ilmu senantiasa diikuti dengan budaya kritis di tengah masyarakat, meskipun sikap kritis itu tetap berpijak kepada adab. Budaya kultus dan taqlid yang membabi buta justru bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga akan merugikan sang pemimpin sendiri.
Pada tahun 2008 ini, misalnya, terbit sebuah buku berjudul ”99 Keistimewaan Gus Dur.”Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin Iskandar menulis, bahwa ”Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu mengawal, mendampingi dan mengayomi masyarakatnya menuju proses pembentukan kemandirian dan kehidupan yang demokratis.” Masih menurut Muhaimin, ”Gus Dur merupakan bagian dari kekayaan yang dimiliki bangsa ini yang patut diteladani oleh siapa pun yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan umat.”
Tentu saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh Abdurrahman Wahid sebagai ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga diberikan oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam pengantarnya untuk buku ini. Aqiel mengisahkan, bahwa Gus Dur mampu mengenali seorang waliyullah. Suatu ketika, Gus Dur menemui seorang yang penampilannya sangat sederhana layaknya seorang ”gembel”. Ternyata, menurut Aqiel Siraj, yang ditemui Gus Dur itu adalah seorang wali yang sedang menyamar. Begitu ketemu, Gus Dur minta didoakan oleh orang tersebut. Aqiel menulis: ”Rupanya, Gus Durlah yang berhasil menyingkap sosok waliyullah tersebut. Sementara kewalian itu hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah.”
Jadi, dengan cerita itu, apakah berarti Abdurrahman Wahid adalah seorang waliyullah? Wallahu a’lam. Hanya Allah yang tahu.
Salah satu dari 99 keistimewaan Abdurrahman Wahid yang disebutkan dalam buku ini adalah kegigihannya dalam membela kaum tertindas. Contoh kaum tertindas yang dibela Abdurrahman Wahid adalah Ahmad Dani, Inul Daratista, kelompok Ahmadiyah, Tabloid Monitor, dan sejenisnya.
Kita bisa bersikap kritis terhadap posisi Abdurrahman Wahid dalam soal-soal tersebut. Benarkah Inul merupakan seorang wanita yang tertindas? Benarkah Ahmad Dhani termasuk kaum yang tertindas? Dan sebagainya. Jika Inul dikatakan sebagai makhluk tertindas, bagaimana dengan ribuan ibu-ibu dan anak-anak yang ditindas oleh berbagai tayangan TV yang merusak moral? Mereka tertidas, dan mereka tidak berdaya. Inul justru bergelimang harta dan dibela habis-habisan oleh kekuatan industri hiburan yang sangat fasis. Kita pun bisa bertanya, dimana posisi Abdurrahman Wahid dalam kasus penindasan rakyat Palestina, di posisi Israel atau rakyat Palestina? Mengapa dia lebih memilih bersahabat dengan Shimon Peres?
Kita maklum, bahwa para pendukung seorang tokoh kadangkala membuat pemaparan yang mengagungkan sang tokoh. Ketokohan Abdurrahman Wahid tidaklah diragukan. Banyak keistimewaan dimilikinya. Karena itulah, ketika akan mendeklarasikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), para kyai senior di NU pun seperti merasa perlu menerbitkan sebuah buku kecil berjudul
Kita tunggu saja akhir dari semua ”permainan” semacam ini. Kita yakin, Allah Maha Tahu apa yang sebenarnya terjadi. Allah tahu siapa yang benar dan siapa yang dusta. Pasti akan ada balasan untuk masing-masing. Para tokoh itu akan mempartanggungjawabkan perbuatannya sendiri kepada Allah SWT. Kita pun demikian. Di akhirat nanti, mereka akan berlepas tangan, dan tidak mau menanggung dosa-dosa kita.
Yang penting, kita tetap diwajibkan berdakwah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Mudah-mudahan, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu dan tidak peduli dengan berbagai persoalan umat. Sebab, kata Rasulullah saw, barangsiapa yang bangun pagi dan tidak peduli dengan urusan umat, maka dia bukan bagian dari umat Islam.
Selain dari sikap – sikap diatas ada hal yang lain yan gdapat saya jelaskan tentang bagaimana sesorang itu tidak peduli dengan keadaan disekitarnya. Hal ini terkadnag tergantung dengan manusia itu sendiri. Bagaimana cara didikannya didalam keluarganya atauapun faktor dari orang lain.
Kita dapat mabil contoh yang pertama adalah kemiskinan yang ada diindonesia :
Dalam tahun ke tahun masyarakat miskin diindinesia sangat banyak enatah apa yang terjadi apabila masih akan bertambah masyarakt miskinnya. Kita lihat saja di Jakarta ini, sangat banyak masnyarakat miskin. Mungkin penyebabnya adalah mereka kekurangan lapangan pekerjaan didaerahnya masing – masing. Apabila dilihat didaerah kebanyakan amsyarakat hanya menjadi buruh entah itu buruh tani atau buruh yang lain. Semakin lama penduduk desa semakin banyak, orang yang ingin bekerja pun semakin banyak, semakin sedikit lapangan pekerjaan yang ada. Sikap yang terjadi saat ini adalah pemerintah Indonesia mengabaikan keadaan masyarak miskin itu. Sampai akhirnya mereka berfikir ingin berpindah dari desa ke kota agar nasib mereka lebih baik di kota. Tapi hal itu masih tergantung pada seleksi alam di kota. Apabila orang yang berpindah malas maka ia akan terbuang atau menjadi tidak mempunyai pekerjaan namun apabila ia kreatif dan bersemangat maka ia akan mendapatkan pekerjaan bahkan dapat menciptakan lapangan pkerjaan sendiri. Semua yang dilakukan pasti ada seleksi alam siapa yang kreatif itu yang berhasil. Orang – orang yang tidak berhasil dia akan menjadi orang pemalas tidak bersemangat bekerja atau menjadi masyarakat miskin yang pekerjaannya tidak jelas. Kita dapat melihatnya di jalan –jalan di ibu kota ini banyak para pengemis, gembel, anak jalanan dan lainnya. Mereka itulah yang terkena seleksi alam. Mungkin ada beberapa orang yang merasa kasihan tapi ada beberapa orang yang menghiraukan mereka. Yang mernghiraukan ini lah mungkin berfikiran“siapa suruh pindah ke kota hanya memenuhi kesibukan dikota saja” mungkin bagi orang yan gseperti mereka sangat terganggu dengan keadaan para pengemis atau masyarakat miskin itu. Ada juga cara dari orang yang peduli dengan memberikan uang atau barng lainnya. Mengapa seperti itu? Mereka merasa iba dengan keadaan mungkin mereka berfikir apabila mereka berada diposisi seerti itu. Kebijakan dari pemerintah seperti mangadakan razia juga tidak efektif mereka dibawa ke panti sosial uttuk dibina dan diajarka seni seperti menjahit dan seni tnagan lainnya. Namun dari ada juga yang melarikan diri menjadi pengemis atau pengamen. Mengapa mereka tidak ingin dibina dan lebih memilih dijalanna? Hal seperti itu disebabkan mereka tidah betah dengan keadaannya. Mereka tidak mendapat uang dengan cepat. Peduli atau tidak peduli pemerintah dengan keadaan mereka yang seperti itu.
Saran saya adalah bagaimana bila pemerintah membuka lapangan pekerjaan agar masyarakat yang kekurangan dapat bekerja dan masyarak yang kekurangan tidak boleh bermalas – malasan dan hanya menunggu lapangan pekerjaan. Harus memiliki inisiatif, pantang menyerah, dan kreatif agar mereka tidak menjadi masyarakat yang kekurangan. Sangat miris sekali apabila Indonesia di cap sebagai pemerintah yang tidak peduli dengan masyarakatnya. Semua masyarakat seharusnya ambil andil dalam hal ini. Mengapa? Karena kita berada di negara demokrasi negara yang dianggap negara lain kaya akan hasil alamnya yang seharusnya bisa memanfaatkannya dengan baik dan tidak dimanfaatkan oleh negara lain.
Ketidak pedulian dari masyarakat akan membawa bencana bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Apa sebabnya? Mungkin mereka akan terus terganggu dengan masyarakat yang kekurangan yang belum bisa memnuhi kebutuhan hidupnya dan sangat prihatin untuk masyarakat yang kurang mampu tesebut. Yang dapat saya amati bahkan orang yang kekurangan tersebut juga tidak peduli dengan keadaannya. Mereka tetap malas dan tidak ingin berusahan yang lebih. Bgaimana pemerintah ingin mensejahterakan mereka? Sikap pemerintah dan siksap dari masyarakat itu sendiri harus balance (seimbang) apabila tidak begitu tidak akan ada masyarakat yang sejahtera dan akan terus kekurangan walaupun salah satunya sudah diperbaiki sikapnya.
Itulah yang dapat saya amati dan saya tulis disini. Sebaiknya kita semua peduli dengan keadaan disekitar kita. Dimanapun kita berada, seberapa tinggi jabatan kita. Kita tetap harus peduli agar semua menjadi sejahtera.
sumber:
http://fitriapratiwi.blogspot.com/2010/11/mapping-subject-mengapa-orang-tidak.html
Langganan:
Postingan (Atom)